Hati-Hati Memilih Pasangan, Negara Maju dimulai dari Pernikahan
Pernahkah kamu berpikir jika sebuah negara bisa maju
dimulai dari pernikahan? Jika belum pernah terpikirkan atau sempat memiliki
pemikiran tersebut, yuk buka hati dan pikiran. Ini akan lebih mudah diterima
jika kamu sudah memahaminya.
Kamu pasti bertanya-tanya, kok bisa negara bisa maju
dimulai dari pernikahan? Jawabannya sederhana. Coba deh kamu ingat-ingat siapa
saja yang memimpin sebuah negara, mulai dari presiden, menteri, dan petinggi
jajarannya. Mereka yang memimpin negara hasil dari didikan atau pendidikan yang diberikan
oleh siapa?
Jawabannya pasti pendidikan formal, yang dididik
oleh guru. Itu memang benar, tapi ada pendidikan yang lebih penting dan memiliki
pengaruh, tidak lain adalah keluarga. Ibu dan bapak yang mendampingi selama
belasan tahunlah yang memiliki pengaruh besar dalam mendidik. Kok bisa? Baca
terus artikel ini, ya.
Dimulai dari Pernikahan
Saat seorang memutuskan menikah, ia akan bersama
dengan pasangannya dalam mengambil keputusan keluarga. Setelah terjadinya
pernikahan, keturunan akan lahir dari pernikahan tersebut. Tentunya, keturunan
yang lahir dari pernikahan inilah, pendidikan utamanya keluarga.
Jika seorang anak tumbuh di orang tua yang otoriter,
kemungkinan besar ia akan menjadi anak yang otoriter, sesuai dengan cara orang
tuanya mendidik. Begitu pun jika seorang anak tumbuh di orang tua yang
demokrasi, anak akan tumbuh besar menjadi orang yang demokrasi, mengutamakan
segalanya dengan bermusyawarah.
Begitu pun seorang pemimpin negara bisa memimpin
negaranya tidak lain karena pengaruh dari pendidikan orang tuanya. Bayangkan
saja, jika presiden tumbuh dengan didikan otoriter, ia akan memimpin rayaknya
dengan otoriter.
Pendidikan formal yang dipelajari sejak dini tidak begitu
mempengaruhi seseorang, karena kebanyakan pendidikan formal lebih mengutamakan nilai
daripada kemampuan. Sebut saja, di era seperti ini, hasil dari pendidikan yang
didapat, lebih banyak menorehkan pemimpin yang serba bisa, daripada pemimpin
yang ahli. Hasilnya tentu tidak maksimal.
Apakah pembahasan singkat di atas masih bisa
dipahami? Atau kamu masih bingung? Pada intinya semua anak adalah pemimpin.
Untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Meski demikian, semua
bergantung pada keluarga yang dimulai dari pernikahan. Itulah pentingnya
berhati-hati dalam memilih pasangan. Karena pasangan akan menentukan jalan mana
yang akan kamu tuju.
Hati-Hati Memilih Pasangan
Tidak bisa dipungkiri, memilih pasangan itu
ibaratnya memilih berlian di antara tumpukan sampah. Salah saja dalam memilih
pasangan hidup, keluarga sakinah mawadah dan rahmat yang menjadi tujuan akan
sirna di tengah jalan. Namun, jika pasangan hidup yang dipilih adalah orang
yang tepat, insyaallah menuju surga-Nya pun akan lebih mudah.
Memilih pasangan itu tidak hanya sekadar dari apa
yang dilihat dan didengar. Sering kali apa yang dilihat hanya penampakan yang
ingin diperlihatkan, istilahnya pencitraan. Begitu juga dengan apa yang
didengar, jangan mudah terlena dengan omongan orang yang memuji, bisa jadi
hanya untuk menutupi aib.
Jika kamu sedang mencari pasangan, cobalah untuk
buka hati dan pikiran. Kamu bisa merasakan mana calon pasangan yang tepat atau tidak untukmu.
Kamu bisa menggunakan logika. Hal-hal yang tidak kamu sukai, lalu ada pada
calon pasanganmu, cobalah untuk mencari tahu kebenarannya. Jangan mudah
menerima, belum tentu calon pasanganmu bisa berubah.
Kebanyakan orang maunya diterima apa adanya, tapi
tidak mau memperbaiki diri. Sayang rasanya, jika niat hati ingin berkeluarga
untuk mencari rida-Nya, harus dihabiskan dengan menunggu pasangan berubah.
Jarang ada orang yang mau berubah, kecuali dari dalam dirinya sendiri ada niat
yang kuat.
Pasangan yang kamu pilih inilah yang akan menentukan
keturunan selanjutnya. Keturunanmu akan dibentuk oleh karakter dari pasangan
kamu. Kamu memilih pasangan yang temperamen, tentunya ia akan mudah marah
ketika memberi pengasuhan. Itu tidak akan terelakkan. Jika anaknya mengganggu,
ia pun akan mudah marah. Padahal sejatinya mendidik anak adalah dengan kelembutan
sesuai yang diajarkan Al-Quran dan hadis.
Kesimpulan
Pembahasan sederhana di atas cukup mudah dipahami,
bukan? Carilah pasangan yang satu visi misi dan tujuan. Perbanyaklah berteman
dengan lawan jenis untuk mengetahui dan mengenal seperti apa yang cocok
untukmu. Jika kamu sudah menemukan yang tepat, segeralah untuk menikah. Bersama-sama
menuju keluarga sakinah mawadah dan rahmat.
Mencari pasangan yang tepat itu tidak mudah, butuh
waktu dan proses. Jangan takut dibilang perawan tua. Sejatinya pernikahan
bukanlah perlombaan siapa lebih cepat menikah. Melainkah ibadah sepanjang
hidup.
Posting Komentar untuk "Hati-Hati Memilih Pasangan, Negara Maju dimulai dari Pernikahan"